
Pada 7 Februari 2026, melalui program Eco English, kami mengadakan pertemuan edukatif bersama komunitas pengelolaan sampah Daur Resik di Yayasan Kampung Halaman, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk memahami tantangan sekaligus peluang dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Acara diawali dengan sesi pembukaan dan perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan paparan materi oleh Maria Sucianingsih selaku pendiri Daur Resik. Dalam pemaparannya, Maria menjelaskan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), tetapi perlu diperluas menjadi prinsip 11R. Prinsip ini mencakup rethink, research, reduce, repair, regift, reuse, refuse, replace, refill, rot, repurpose, recover, hingga recycle sebagai satu rangkaian pendekatan yang lebih utuh.

Dari seluruh prinsip tersebut, “rethink” atau berpikir ulang menjadi langkah yang paling mendasar. Setiap individu diajak untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari barang yang dikonsumsi dan ke mana barang tersebut akan berakhir setelah digunakan. Kesadaran ini menjadi kunci penting dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Dalam praktiknya, hanya sebagian kecil sampah yang benar-benar dapat didaur ulang, sementara sebagian besar lainnya merupakan residu yang sulit diolah kembali. Hal ini tercermin dari aktivitas pemulung yang cenderung hanya mengambil material bernilai ekonomi seperti kertas, botol, dan kardus. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam aspek pemilihan dan kualitas sampah yang dihasilkan.
Maria juga menekankan pentingnya riset dalam membangun sistem pengelolaan sampah, terutama jika ingin dikembangkan sebagai model bisnis. Daur Resik sendiri melakukan riset selama tiga tahun sebelum menjalankan operasionalnya. Dalam konteks ini, konsep ekonomi sirkular menjadi fondasi utama, yaitu upaya menjaga agar alur material tetap berputar dalam sistem dan tidak berakhir sebagai limbah.

Tanpa sistem yang sirkular, timbulan sampah akan terus meningkat, sebagaimana yang terjadi di TPA Piyungan yang kian menggunung. Sampah yang tidak terkelola dengan baik bahkan berpotensi mencemari lingkungan hingga ke laut. Oleh karena itu, solusi tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah, tetapi harus dimulai dari perubahan pola konsumsi serta perbaikan sistem pengelolaannya.

Pertemuan ini ditutup dengan sesi refleksi dan praktik pemilahan sampah. Melalui kegiatan ini, peserta menyadari bahwa perubahan perilaku individu memegang peranan penting. Mengurangi sampah bukan sekadar membuang pada tempatnya, melainkan tentang bagaimana kita memilih, menggunakan, dan memperlakukan barang secara lebih bijak sejak awal. Ria.
–000–
On February 7, 2026, through the Eco-English program, we held an educational meeting with the Daur Resik waste management community at the Kampung Halaman Foundation in Sleman, Yogyakarta. This activity served as a collaborative learning space to understand the challenges and opportunities of waste management based on the circular economy.
The event began with an opening and introduction session, followed by a presentation by Maria Sucianingsih, the founder of Daur Resik. In her presentation, Maria explained that relying solely on the 3R principles (Reduce, Reuse, Recycle) is no longer enough; it needs to be expanded into the 11R principles. This comprehensive approach includes: Rethink, Research, Reduce, Repair, Regift, Reuse, Refuse, Replace, Refill, Rot, Repurpose, Recover, and Recycle.
The Power of "Rethink"
Among all these principles, "Rethink" stands as the most fundamental step. Every individual is encouraged to consider the long-term impact of the goods they consume and where those items will end up after use. This awareness is the key to reducing waste at its source.
In practice, only a small fraction of waste can truly be recycled, while the majority consists of residues that are difficult to reprocess. This is reflected in the habits of waste pickers, who tend to collect only materials with economic value, such as paper, bottles, and cardboard. This situation highlights the limitations of current waste management systems, particularly regarding sorting and the quality of the waste produced.
Research and the Circular Economy
Maria also emphasized the importance of research in building a waste management system, especially if it is to be developed as a business model. Daur Resik itself conducted research for three years before beginning operations. In this context, the concept of a circular economy serves as the primary foundation—the effort to keep the flow of materials circulating within the system so they do not end up as waste.
A Call for Systemic Change
Without a circular system, waste accumulation will continue to grow, as seen in the mounting piles at the Piyungan Landfill. Poorly managed waste even has the potential to pollute the environment all the way to the ocean. Therefore, the solution is not just about cleaning up trash; it must start with changing consumption patterns and improving management systems.
The meeting concluded with a reflection session and a hands-on waste-sorting practice. Through this activity, participants realized that individual behavior change plays a vital role. Reducing waste is not just about throwing things in the right place—it’s about how we choose, use, and treat goods more wisely from the very beginning.
— Ria
© 2026 godongsukun.id
