Program Eco English Jogja melaksanakan kegiatan di kawasan konservasi burung hantu jenis Tyto alba. Acara dibuka oleh Mbak Jim dengan suasana hangat yang membangun semangat peserta sejak awal. Pukul 09.42, kegiatan dilanjutkan dengan sesi perkenalan peserta, kemudian ice breaking yang mencairkan suasana sekaligus mempererat kebersamaan.

Memasuki sesi utama, peserta diajak memahami hubungan erat antara manusia, lingkungan, dan perilaku satwa, khususnya di kawasan Merapi. Dijelaskan bahwa beberapa hewan seperti tupai dan bajing kini cenderung menjadi nokturnal akibat tekanan lingkungan dan aktivitas perburuan. Bahkan kijang di wilayah Turgo lebih sering terlihat pada malam hari sebagai bentuk adaptasi untuk merasa lebih aman. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku satwa tidak lepas dari pengaruh aktivitas manusia.
Pembahasan semakin menarik ketika narasumber mengaitkan fenomena tersebut dengan kasus di Somerset, Inggris, di mana pemusnahan burung gereja justru menyebabkan lonjakan populasi dalam waktu singkat. Ketiadaan pesaing dan melimpahnya sumber makanan menjadi faktor utama. Dari sini, peserta memahami bahwa keseimbangan ekosistem sangat sensitif terhadap intervensi manusia.

Topik kemudian beralih pada permasalahan tikus di sektor pertanian. Tikus dikenal sebagai hewan yang sangat adaptif dan memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi. Dalam masa hidup sekitar delapan bulan, sepasang tikus dapat berkembang hingga ribuan individu. Penggunaan pupuk kimia berlebih ternyata turut memperparah kondisi, karena menurunkan pH tanah dan meningkatkan kadar nitrogen yang justru disukai tikus.
Metode pengendalian seperti racun dinilai kurang efektif karena dapat membunuh predator alami dan memicu tikus untuk beradaptasi. Bahkan, tikus mampu belajar dari pengalaman dan mengembangkan strategi bertahan hidup, seperti membuat ruang perlindungan bagi anak-anaknya. Hal ini menegaskan bahwa pengendalian hama tidak bisa dilakukan dengan cara instan.
Sebagai solusi, pendekatan ekologis menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan burung hantu Tyto alba sebagai predator alami tikus, mengingat 99% makanannya adalah tikus. Namun, keberhasilan metode ini bergantung pada pemahaman perilaku burung hantu, seperti kebutuhan tempat bertengger, desain sarang, serta pola berburu. Upaya ini juga membutuhkan waktu dan konsistensi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pak Liem selama tiga tahun.
Saat ini, terdapat 15 sarang burung hantu di lokasi konservasi, dengan 11 di antaranya aktif bertelur. Masa pengeraman berlangsung antara 27 hingga 40 hari, dengan jeda penetasan sekitar empat hari. Data ini menunjukkan potensi besar dalam pengendalian hama secara alami, meskipun tetap membutuhkan kerja sama dari para petani.
Melalui kegiatan Eco English Jogja ini, peserta tidak hanya belajar bahasa Inggris dalam konteks lingkungan, tetapi juga mendapatkan wawasan penting tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem melalui pendekatan yang berkelanjutan dan kolaboratif.


--------oooo
The Eco-English Jogja program recently held an educational session at a conservation area for the Tyto alba (Barn Owl). The event was opened by Ms. Jim in a warm atmosphere that immediately sparked the participants' enthusiasm. Following the opening, the group engaged in introductions and ice-breaking activities to strengthen their sense of community.
Wildlife Adaptation and Human Impact
In the main session, participants explored the close relationship between humans, the environment, and animal behavior, particularly in the Mount Merapi region. It was explained that animals such as squirrels (tupai and bajing) are trending toward nocturnal behavior due to environmental pressures and hunting. Even the barking deer (kijang) in the Turgo area are now more frequently seen at night as an adaptation to feel safer. This highlights how human activity directly dictates shifts in wildlife behavior.
The discussion grew even more compelling as the speaker drew parallels with a case in Somerset, England, where the eradication of sparrows led to a sudden population explosion. The lack of competitors and an abundance of food were the primary factors. From this, participants learned that ecosystem balance is incredibly sensitive to human intervention.
The Challenge of Rodent Control
The topic then shifted to the issue of rats in the agricultural sector. Rats are highly adaptive creatures with a high reproductive rate; within a lifespan of about eight months, a single pair of rats can produce thousands of offspring. Interestingly, the excessive use of chemical fertilizers worsens the situation by lowering soil pH and increasing nitrogen levels, which actually attracts rats.
Traditional control methods, such as poison, are considered ineffective because they can kill natural predators and trigger rats to adapt. Rats are even capable of learning from experience and developing survival strategies, such as creating protective chambers for their young. This reinforces the idea that pest control cannot be achieved through "instant" or chemical fixes.
Barn Owls as an Ecological Solution
As a solution, this activity focused on an ecological approach: utilizing the Tyto alba as a natural predator, given that 99% of its diet consists of rats. However, the success of this method depends on understanding owl behavior, such as their need for perches, specific nest designs, and hunting patterns. This effort requires time and consistency, as demonstrated by Mr. Liem, who has dedicated three years to this initiative.
Currently, there are 15 owl nests in the conservation area, 11 of which are active with eggs. The incubation period lasts between 27 to 40 days, with hatching intervals of about four days. These statistics show the great potential of natural pest control, provided there is ongoing cooperation from local farmers.
Conclusion
Through this Eco-English Jogja session, participants did more than just practice English in an environmental context; they gained vital insights into maintaining ecosystem balance through sustainable and collaborative approaches.
© 2026 godongsukun.id
